Demedim Me

Thursday, April 10, 2008

Tiada kekuatan dengan lemahnya Iman

Dengan Nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Mengasihani

forwarded e-mail, terima kasih banyak-banyak sangat pada yang froward, for I am very much value this article, and I truly hope you will do so, moga kita dapat manfaat yang baik, insyaAllah.

p/s : ini hadiah hari lahir saya untuk anda :).


10 tanda-tanda yang menunjukkan iman sedang lemah.

1. Ketika Anda sedang melakukan kedurhakaan atau dosa. Hati-hatilah! Sebab, perbuatan dosa jika dilakukan berkali-kali akan menjadi kebiasaan. Jika sudah menjadi kebiasaan, maka segala keburukan dosa akan hilang dari penglihatan Anda. Akibatnya, Anda akan berani melakukan perbuatan durhaka dan dosa secara terang-terangan.

Rasulullah saw. bersabda, "Tidak ada pezina yang di saat berzina dalam keadaan beriman. Tidak ada pencuri yang si saat mencuri dalam keadaan beriman. Begitu pula tidak ada peminum arak di saat meminum dalam keadaan beriman." (Bukhari, hadits nomor 2295 dan Muslim, hadits nomor 86)

2. Ketika hati Anda terasa begitu keras dan kaku. Sampai-sampai menyaksikan orang mati terkujur kaku pun tidak bisa menasihati dan memperlunak hati Anda. Bahkan, ketika ikut mengangkat si mayit dan menguruknya dengan tanah. Hati-hatilah! Jangan sampai Anda masuk ke dalam ayat ini, "Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi." (Al-Baqarah: 74)

3. Ketika Anda tidak tekun dalam beribadah. Tidak khusyuk dalam shalat. Tidak menyimak dalam membaca Al-Qur'an. Melamun dalam doa. Semua dilakukan sebagai rutinitas dan refleksi hafal karena kebiasaan saja. Tidak berkonsentrasi sama sekali. Beribadah tanpa ruh. Ketahuilah! Rasulullah saw. berkata, "Tidak akan diterima doa dari hati yang lalai dan main-main." (Tirmidzi, hadits nomor 3479)

4. Ketika Anda terasas malas untuk melakukan ketaatan dan ibadah. Bahkan, meremehkannya. Tidak memperhatikan shalat di awal waktu. Mengerjakan shalat ketika injury time, waktu shalat sudah mau habis. Menunda-nunda pergi haji padahal kesehatan, waktu, dan biaya ada. Menunda-nunda pergi shalat Jum'at dan lebih suka barisan shalat yang paling belakang. Waspadalah jika Anda berprinsip, datang paling belakangan, pulang paling duluan. Ketahuilah, Rasulullah saw. bersabda, "Masih ada saja segolongan orang yang menunda-nunda mengikuti shaff pertama, sehingga Allah pun menunda keberadaan mereka di dalam neraka." (Abu Daud, hadits nomor 679)

Allah swt. menyebut sifat malas seperti itu sebagai sifat orang-orang munafik. "Dan, apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas."

5. Ketika hati Anda tidak merasa lapang. Dada terasa sesak, perangai berubah, merasa sumpek dengan tingkah laku orang di sekitar Anda. Suka memperkarakan hal-hal kecil lagi remeh-temeh. Ketahuilah, Rasulullah saw. berkata, "Iman itu adalah kesabaran dan kelapangan hati." (As-Silsilah Ash-Shahihah, nomor 554)

6. Ketika Anda tidak tersentuh oleh kandungan ayat-ayat Al-Qur'an. Tidak bergembira ayat-ayat yang berisi janji-janji Allah. Tidak takut dengan ayat-ayat ancaman. Tidak sigap kala mendengar ayat-ayat perintah. Biasa saja saat membaca ayat-ayat pensifatan kiamat dan neraka. Hati-hatilah, jika Anda merasa bosan dan malas untuk mendengarkan atau membaca Al-Qur'an. Jangan sampai Anda membuka mushhaf, tapi di saat yang sama melalaikan isinya.

Ketahuilah, Allah swt. berfirman, "Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. " (Al-Anfal:2)

7. Ketika Anda melalaikan Allah dalam hal berdzikir dan berdoa kepada-Nya. Sehingga Anda merasa berdzikir adalah pekerjaan yang paling berat. Jika mengangkat tangan untuk berdoa, secepat itu pula Anda menangkupkan tangan dan menyudahinya. Hati-hatilah! Jika hal ini telah menjadi karakter Anda. Sebab, Allah telah mensifati orang-orang munafik dengan firman-Nya, "Dan, mereka tidak menyebut Allah kecuali hanya sedikit sekali." (An-Nisa:142)

8. Ketika Anda tidak merasa marah ketika menyaksikan dengan mata kepala sendiri pelanggaran terhadap hal-hal yang diharamkan Allah. Ghirah Anda padam. Anggota tubuh Anda tidak tergerak untuk melakukan nahyi munkar. Bahkan, raut muka Anda pun tidak berubah sama sekali.

Ingatlah, pesan Rasulullah saw. ini, "Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah kemungkaran itu dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Kalau tidak sanggup, maka dengan hatinya, dan ini adalah selemah-lemahnya iman." (Bukhari, hadits nomor 903 dan Muslim, hadits nomor 70)

9. Ketika Anda gila hormat dan suka publikasi. Gila kedudukan, ngebet tampil sebagai pemimpin tanpa dibarengi kemampuan dan tanggung jawab. Suka menyuruh orang lain berdiri ketika dia datang, hanya untuk mengenyangkan jiwa yang sakit karena begitu gandrung diagung-agungkan orang. Narsis banget!

Allah berfirman, "Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri." (Luqman:18)

"Jika kamu sekalian menghendaki, akan kukabarkan kepadamu tentang kepemimpinan dan apa kepemimpinan itu. Pada awalnya ia adalah cela, keduanya ia adalah penyesalan, dan ketiganya ia adalah azab hati kiamat, kecuali orang yang adil." (Shahihul Jami, 1420).

Untuk orang yang tidak tahu malu seperti ini, perlu diingatkan sabda Rasulullah saw. yang berbunyi, "Iman mempunyai tujuh puluh lebih, atau enam puluh lebih cabang. Yang paling utama adalah ucapan `Laa ilaaha illallah', dan yang paling rendah adalah menghilangkan sesuatu yang mengganggu dari jalanan. Dan malu adalah salah satu cabang dari keimanan." (Bukhari, hadits nomor 8, dan Muslim, hadits nomor 50)

10. Ketika Anda bakhil dan kikir. Ingatlah perkataan Rasulullah saw. ini, "Sifat kikir dan iman tidak akan bersatu dalam hati seorang hamba selama-lamanya. " (Shahihul Jami', 2678)



www.dakwatuna.com

Labels:

Tuesday, October 23, 2007

The Room

Dengan Nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Mengasihani



The Room
By Joshua Harris

In that place between wakefulness and dreams, I found myself in a room. There were no distinguishing features save for the one wall covered with small indexcard files. They were like the ones in libraries that list titles by author or subject in alphabetical order. But these files, which stretched from floor to ceiling and seemingly endlessly in either direction, had very different headings. As I drew near the wall of files, the first to catch my attention was one that read "People I Have Liked." I opened it and began flipping through the cards. I quickly shut it, shocked to realize that I recognized the names written on each one.

And then without being told, I knew exactly where I was.

This lifeless room with its small files was a crude catalog system for my life. Here were written the actions of my every moment, big and small, in a detail my memory could not match. A sense of wonder and curiosity, coupled with horror, stirred within me as I began randomly opening files and exploring their content. Some brought joy and sweet memories; others a sense of shame and regret so intense that I would look over my shoulder to see if anyone was watching.

A file named "Friends" was next to one marked "Friends I Have Betrayed." The titles ranged from the mundane to the outright weird. "Books I Have Read," "Lies I Have Told," "Comfort I Have Given," "Jokes I Have Laughed At."

Some were almost hilarious in their exactness: "Things I've Yelled at My Brothers."

Others I couldn't laugh at: "Things I Have Done in My Anger," "Things I Have Muttered Under My Breath at My Parents." I never ceased to be surprised by the contents. Often there were many more cards than I expected. Sometimes fewer than I hoped.

I was overwhelmed by the sheer volume of the life I had lived. Could it be possible that I had the time in my 30 years to write each of these thousands or even millions of cards? But each card confirmed this truth. Each was written in my own handwriting. Each signed with my signature.

When I pulled out the file marked "Songs I Have Listened To," I realized the files grew to contain their contents. The cards were packed tightly, and yet after two or three yards, I hadn't found the end of the file. I shut it, shamed, not so much by the quality of music, but more by the vast amount of time I knew that file represented.

When I came to a file marked "Lustful Thoughts," I felt a chill run through my body. I pulled the file out only an inch, not willing to test its size, and drew out a card. I shuddered at its detailed content. I felt sick to think that such a moment had been recorded.

An almost animal rage broke on me. One thought dominated my mind: "No one must ever see these cards! No one must ever see this room! I have to destroy them!"

In an insane frenzy I yanked the file out. Its size didn't matter now. I had to empty it and burn the cards. But as I took it at one end and began pounding it on the floor, I could not dislodge a single card. I became desperate and pulled out a card, only to find it as strong as steel when I tried to tear it. Defeated and utterly helpless, I returned the file to its slot. Leaning my forehead against the wall, I let out a long, self-pitying sigh.

And then I saw it.

The title bore "People that I Have Taught About Allah". The handle was brighter than those around it, newer, almost unused. I pulled on its handle and a small box not more than three inches long fell into my hands. I could count the cards it contained on one hand.

And then the tears came. I began to weep. Sobs so deep that the hurt started in my stomach and shook through me. I fell on my knees and cried. I cried out of shame, from the over-whelming shame of it all. The rows of file shelves swirled in my tear-filled eyes. No one must ever, ever know of this room.

I must lock it up and hide the key.


This story was originally written for a Christian audience by Joshua Harris, in his book "I Kissed Dating Goodbye".


Labels: