Tuesday, October 17, 2006
Sunday, October 15, 2006
Saturday, October 14, 2006
Wednesday, October 11, 2006
Saturday, October 07, 2006
Anugerah Ramadhan

Dengan Nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Mengasihani
pemberitahuan : artikel ni dikeluarkan dalam siri Tazkirah Ramadhan di tempat kami belajar ; Dublin. Ada beberapa ayat/perkara yang menyentuh secara spesifik tentang pelajar-pelajar di sini, tetapi saya memilih untuk leave it as it is - bolehlah anda merasa sedikit sebanyak pengalaman kami berpuasa di tempat jauh ;)
**************************************************************************
Alhamdulillah, seinfiniti syukur kita rayukan moga Dia menerima, kerana masih diperkenankanNya untuk kita menyambung hayat di hari ke 14 Ramadhan 1427H ini.
Bagi kita yang rata-rata berusia awal 20-an, ini mungkin kali ke 15,16 atau 17 berpuasa betul (bukan puasa yang-yok, pagi-pagi buka periuk). Kalau diminta menceritakan pengalaman puasa kita yang dahulu dan yang sekarang, mesti ada yang menarik dan mungkin mengharukan, tapi tidaklah sesignifikan mana. Tidak keterlaluan kalau dikatakan puasa kita berlangsung dalam suasana makmur sentosa ; contoh paling mudah - makanan, baik untuk berbuka mahu pun bersahur, tak pernah terputus, malah kadang-kadang berlebih meriahnya berbanding hari-hari biasa.
Pernah tak kita sekali-sekala berfikir tentang puasa orang lain ; yang kurang bernasib baik, saudara-mara di negara lain, atau puasa mereka-mereka yang terdahulu daripada kita? Tentang Ramadhan dan ibadah mereka?
"Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu sekalian puasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu sekalian bertaqwa "( Al-Baqarah : 183 )
Tanggal 17 Ramadhan 2H, satu peristiwa agung berlaku, melibatkan mereka yang berpuasa, yang mencorakkan kanvas kegemilangan Islam. Perang Badar Al-Kubra merupakan peperangan pertama yang dialami kaum muslimin semenjak Nabi Muhammad S.A.W diangkat menjadi utusan yang mulia. Barisan muslimin hanya seramai 313 orang, dengan kelengkapan yang serba kekurangan berbanding ketumbukan kaum musyrikin yang mempunyai kelebihan dalam bilangan tentera dan peralatan perangnya. Setelah pertarungan yang sengit berlaku (dikhabarkan bibir tentera Allah sentiasa basah dengan sebutan “Esa! Esa! Esa!”) dan dengan pertolongan Allah yang menghantar pasukanNya yang istimewa dari langit, dengan izin Allah yang Maha Berkuasa, maka menanglah Islam mengalahkan kafirun Quraisy. Ramai yang mati syahid, ramai lagi yang mati percuma, sia-sia. Setelah kembali ke Madinah, Rasulullah dan para sahabat memberikan layanan yang baik kepada orang tawanan, sehinggakan diriwayatkan seorang tentera Islam memberikan sepotong roti, hanya itu yang ia punyai, kepada tawanan yang kelaparan, sehingga tersentuh hati mereka akan keindahan ajaran Islam.
TAHUKAH KITA?
Di samping menjadi bulan Ibadat dan membanyakkan taqarub (mendekatkan diri) kepada Allah, Ramadhan adalah bulan jihad dan bulan kemenangan kepada umat Islam seperti yang tercatat indah di lembaran sejarah. Antaranya ialah :
1. Badar Kubra, berlaku pada 17 Ramadhan tahun 2 Hijrah
2. Fathu Mekah, berlaku pada 10 Ramadhan tahun 8 Hijrah
3. Peperangan Al Qadisiyah, berlaku pada tahun 15 Hijrah
4. Pembukaan Andalus, berlaku pada Ramadhan tahun 92 Hijrah
5. Peperangan Ain Jalut, berlaku pada Ramadhan tahun 658 Hijrah
6. Pembebasan Sinai dari cengkaman Yahudi berlaku pada 10 Ramadhan tahun 1393 H
Gahnya mereka yang berpuasa di zaman lepas!
Kembali kita ke alam sekarang, tidak kalah hebatnya kaum muslimin di Palestin, Lebanon, Iraq, Afghanistan dan lain-lain negara yang “kurang bernasib baik” menurut kita. Kekacauan yang tidak surut-surut di Tebing Barat terutamanya, terus menyaksikan penderitaan umat Islam. Sebagaimana kerasnya tentera Israel, keras lagi, bersemangat lagi umat Islam mempertahankan diri dan menggiatkan usaha pembebasan di bulan Ramadhan. Oh, jangan dilupakan kepada rakyat negara kita sendiri. Alhamdulillah, Allah tidak menguji kita dengan ketakutan peperangan, tetapi masih ramai rakyat miskin di tanah air, hakikat yang perit untuk ditelan oleh rata-rata kita yang cukup segala, di Malaysia maju jaya. Berbuka entah dengan apa, bagaimana sahurnya?
Perit, sakit, susah.. Puasa tetap puasa.
Maka, berfikir lagi kita. Apa sebenarnya yang memberi kekuatan kepada mereka untuk tetap berpuasa, malah makin hebat dan bersemangat menurut perintah Allah?
"Sesungguhnya, Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur`an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan, dan itulah kemenangan yang besar." (at-Taubah : 111)
Mereka mengejar anugerah yang tidak terbayang luar biasa dan indahnya. Tambahan pula, apa lagi yang lebih manis daripada memperoleh Cinta Nya di dalam bulan Ramadhan yang penuh Ramhat dan Barakah..
Maka kami ingin menyeru kepada semua kita, dalam bersenang dan bergembira dengan pengalaman puasa kita yang tenang dan indah, marilah kita sentiasa mengucapkan syukur kepada Allah. Sebelum menjamah kurma madu yang manis, sewaktu bersama menghadap hidangan ayam tandoori dan nasi beriyani lazat Masjid Dublin ; panjatkan syukur dan doakan umat Islam di seluruh dunia – sedang ketakutan, kelaparan. Bila rindu suasana Ramadhan di Malaysia dan masakan ibu yang lain dari yang lain ; pohonkan sejahtera iman dan jasad buat semua. Dan yang terpenting kami kira, mari kita bersama mengenang – anugerah Ramadhan ; ada si syahid yang terbang ke syurga, ada si fakir yang dalam lapar dan sengsara menemukan tenang dan bahagia, ada maaf yang bersambut, ada hati yang terbuka menerima Hidayah, ada mata-mata yang menangis mengharap Ampun dan Kasih Allah, ada mereka-mereka yang sentiasa menunggu untuk “kembali” mendapatkan Cinta teragungnya.
(Mereka itu ialah) : orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji Allah, yang mengembara (untuk menuntut ilmu dan mengembangkan Islam), yang rukuk, yang sujud, yang menyuruh berbuat kebaikan dan yang melarang daripada kejahatan, serta yang menjaga batas-batas hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang yang beriman (yang bersifat demikian). – (at-Taubah : 112)
14 Ramadhan 1427H ; Apa Anugerah Ramadhan buat kita?
Monday, October 02, 2006
Belajar Sabar
Dengan Nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Mengasihani
Perasaan itu anugerah.
Gembira.
Sedih.
Suka.
Benci.
Cuba bayangkan kalau kita tak ada perasaan?
.. dan lazimnya, kesedihan berkait rapat dengan dugaan, ujian.
Ujian pulak, depends on how you choose to define it, boleh jadi sesuatu yang memberi kebaikan kepada kita atau pun sebaliknya. Dan, dalam menangani ujian yang menimpa, kita diajar untuk sabar.
daripada buku Patience and Gratitude (an abridged translation of 'Uddat as-sabirun wa zakirat ash-shakirin by Ibn Qayyim al-Jawziyyah):
Patience at times of trial and adversity
Patience during difficult times may be achieved by :
1) Thinking of the good reward that lies ahead
The more you believe in the rewards that are waiting for you, the easier it becomes to have patience. If it were not for the anticipation of the rewards, no goals or objectived pertaining to this life or the hereafter would have been achieved. Human nature loves instant gratification, but reason and maturity make us think of the long term outcome, which helps to strengthen our patience in enduring whatever faces us, whether there is no choice or otherwise
// balasan di akhirat dan dunia, kalau sabar (dan Redha, in sya Allah). kan ujian pun satu hadiah, mahu mendekatkan kita kepada Dia?
2) Expecting and hoping for a time of ease
This hope in itself offers a measure of immediate relief
// macam pelangi lepas hujan. mungkin kita akan jadi lebih tenang dan kuat lepas ni (amin)
3) Thinking of Allah's countless blessings
When we realize we cannot enumerate the blessings of Allah, it becomes easier for us to exercise patience in facing the current adversity, because the present trobles are like a raindrop compared to the vast ocean of Allah's blessings and favours
// Dia yang ciptakan kita, jadi Dia yang paling tahu apa yang terbaik untuk kita. wajib kita bersyukur. He Knows, we know not
4) Thinking of previous blessings of Allah
This will remind us of Allah's care, and strengthen our hopes and expectations of a time of ease to come
// dah banyak yang kita mintak Dia bagi, kita tak mintak pun Dia bagi. takkan bila sekali Dia tak perkenankan permintaan kita, kita dah berkira (marah?)
// They say, sadness and pain comes hand in hand. To some extent, I do agree. But somehow, I choose to treasure the feeling, as it gives meaning to my life and brings me closer to The One who Knows-it-all //
Allah Hafeez
Perasaan itu anugerah.
Gembira.
Sedih.
Suka.
Benci.
Cuba bayangkan kalau kita tak ada perasaan?
.. dan lazimnya, kesedihan berkait rapat dengan dugaan, ujian.
Ujian pulak, depends on how you choose to define it, boleh jadi sesuatu yang memberi kebaikan kepada kita atau pun sebaliknya. Dan, dalam menangani ujian yang menimpa, kita diajar untuk sabar.
daripada buku Patience and Gratitude (an abridged translation of 'Uddat as-sabirun wa zakirat ash-shakirin by Ibn Qayyim al-Jawziyyah):
Patience at times of trial and adversity
Patience during difficult times may be achieved by :
1) Thinking of the good reward that lies ahead
The more you believe in the rewards that are waiting for you, the easier it becomes to have patience. If it were not for the anticipation of the rewards, no goals or objectived pertaining to this life or the hereafter would have been achieved. Human nature loves instant gratification, but reason and maturity make us think of the long term outcome, which helps to strengthen our patience in enduring whatever faces us, whether there is no choice or otherwise
// balasan di akhirat dan dunia, kalau sabar (dan Redha, in sya Allah). kan ujian pun satu hadiah, mahu mendekatkan kita kepada Dia?
2) Expecting and hoping for a time of ease
This hope in itself offers a measure of immediate relief
// macam pelangi lepas hujan. mungkin kita akan jadi lebih tenang dan kuat lepas ni (amin)
3) Thinking of Allah's countless blessings
When we realize we cannot enumerate the blessings of Allah, it becomes easier for us to exercise patience in facing the current adversity, because the present trobles are like a raindrop compared to the vast ocean of Allah's blessings and favours
// Dia yang ciptakan kita, jadi Dia yang paling tahu apa yang terbaik untuk kita. wajib kita bersyukur. He Knows, we know not
4) Thinking of previous blessings of Allah
This will remind us of Allah's care, and strengthen our hopes and expectations of a time of ease to come
// dah banyak yang kita mintak Dia bagi, kita tak mintak pun Dia bagi. takkan bila sekali Dia tak perkenankan permintaan kita, kita dah berkira (marah?)
Prophet Muhammad S.A.W said in his du'a :
"Ya Allah
If You are not angry with me
then I do not care what happens to me
but still I would rather have Your blessings and favour"
// They say, sadness and pain comes hand in hand. To some extent, I do agree. But somehow, I choose to treasure the feeling, as it gives meaning to my life and brings me closer to The One who Knows-it-all //
Allah Hafeez







