Demedim Mi
DEMEDIM MI.
Featuring Hasan Kalicatan.
English Translation :
Why can't you O precious one,
Why can't you accept what's from above,
What ever comes bitter or sweet,
Comes from Allah, a trial indeed.
Why can't you, why can't you,
O my heart I ask of you,
Whatever comes bitter or sweet,
Embrace it all, submissions complete,
Why can't you, O precious one,
Why can't you accept what's from above,
Whatever comes bitter or sweet,
comes from Allah, a trial indeed.
Those that can't accept flounder distressed,
Weepind tears deprived of success,
Because this life's fleeting for sure,
Don't you know you'll always want more.
*************************************************************
Bismillah.
Seperti yang dijanjikan, saya post lirik nasyid Demedim Mi. Sebenarnya, dah lama saya merancang untuk berkongsi lirik tersebut, tapi tidak punya kesempatan ; tertinggal iBuku lah, tapi yang paling selalu, saya terlupa untuk membawa cd Our World bersama. (hari jumaat lepas, mencari sampaikan lambat ke kelas, huh). Tapi alhamdulillah, berhasil juga akhirnya.
Juga seperti yang saya katakan, bukanlah saya tertarik kepada Demedim Mi atas sebab melodinya (melodi Turki klasik, dan nasyid ini sebenarnya disampaikan dalam bahasa Turki), tetapi pada bait kata-katanya. Simple but yet, padat dan menyeluruh maksudnya. Meneliti liriknya, mengajak kita bertanyakan pada diri (O my heart I ask of you) tentang hakikat Redha, juga tentang hakikat Sabar, hakikat Tabah. Kerana, sering sungguh hati-diri kita membicarakan tentang hakikat-hakikat ini secara teori. Namun, apabila tiba pada praktikalnya, bilamana kita diuji dengan masalah, bebanan dan kesedihan (yang pedih), kita seringkali gagal.
Apa yang berlaku ialah, kita sangat cemerlang dalam teori, tapi corot dalam ujian praktikal. Sedih, down, kecewa, takut, lemah, marah... menangis (typical, bukan?). Tidak pula saya katakan bahawa itu adalah kesalahan maha besar. Saya juga sedar, sebagai manusia biasa yang punya perasaan (kurniaan Tuhan), kita memang tidak lepas daripada berada dalam keadaan sedemikian, kita bukan heartless.. bukan. Bahkan, bagi sesetengah dari kita, menangis dapat meringankan beban dalam dada. Cumanya, ingin saya mengingatkan diri sendiri dan juga teman-sahabat yang dihormati, agar belajar mengawal diri ketika dalam kesedihan, jangan sampai masuk dalam golongan yang Berlebih-lebihan, usah sampai kita dipandang Allah sebagai Si Kufur Ni'mat (na'uzubillah).
Sedih dan kecewa yang dirasa, lemah dan pedih yang dialami, biar kita balut dengan Sabar dan Redha. Teori kita zahirkan. Kita latih diri agar Sabar, kita ajar diri supaya Redha dengan ketetapan Tuhan untuk kita. Sungguh saya katakan, bilamana nur-Redha menyelubungi hati dan perasaan kita, cahaya terangnya akan menenggelamkan rasa sedih kecewa yang dirasa. Panasnya membawa rasa selesa yang melenyapkan rasa pedih yang mendera. Bila kita Redha, hati kita seolah-olah terpujuk untuk menerima segalam pemberian Tuhan, sebagai satu tarbiyyah, sebagai tanda Cinta Kasih Nya kepada kita (Whatever comes bitter or sweet, comes from Allah, a trial indeed).
Bicara saya, bukan bicara kosong, in sya Allah. Tentang hakikat Sabar dan Redha, banyak sekali Allah ajarkan kepada kita supaya dapat diimplementasikan dalam kehidupan. Juga bukan bicara kosong saya katakan, kerana pengalaman lepas banyak mengajar, tentang hakikat Redha, tentang hakikat Teori dan Praktikal ~ betapa sukarnya mengotakan apa yang dikata.
Uh-oh, tidak terlalu panjang untuk intro, saya harap ;). Jadi, itulah dia. Saya pilih Demedim Me (saya ubah sedikit dari Demedim Mi, tidak mahu dituduh penciplak hak orang, hehe) kerana saya ingin sentiasa mengingatkan diri, mendidik diri agar dapat mengaplikasikan ilmu Sabar dan Redha dalam apa jua keadaan, menerima segalanya sebagai method tarbiyyah Tuhan kepada diri, sebagai token menunjukkan bahawa saya masih punya tempat untuk mendapatkan perhatian Nya .. ingin mengajar diri supaya melaksanakan apa yang dibicarakan, bukan semata pemanis kata.. bukan! Saya tidak mahu dimurkai Tuhan, kerana :
".. amat besar kemurkaan Allah kepada siapa yang tidak mengotakan apa yang dikata.."
(As-Saff : 4)
Cukup dulu ya.
Kita sama-sama baiki diri, ayuh!
Allah Hafeez =)
Featuring Hasan Kalicatan.
English Translation :
Why can't you O precious one,
Why can't you accept what's from above,
What ever comes bitter or sweet,
Comes from Allah, a trial indeed.
Why can't you, why can't you,
O my heart I ask of you,
Whatever comes bitter or sweet,
Embrace it all, submissions complete,
Why can't you, O precious one,
Why can't you accept what's from above,
Whatever comes bitter or sweet,
comes from Allah, a trial indeed.
Those that can't accept flounder distressed,
Weepind tears deprived of success,
Because this life's fleeting for sure,
Don't you know you'll always want more.
*************************************************************
Bismillah.
Seperti yang dijanjikan, saya post lirik nasyid Demedim Mi. Sebenarnya, dah lama saya merancang untuk berkongsi lirik tersebut, tapi tidak punya kesempatan ; tertinggal iBuku lah, tapi yang paling selalu, saya terlupa untuk membawa cd Our World bersama. (hari jumaat lepas, mencari sampaikan lambat ke kelas, huh). Tapi alhamdulillah, berhasil juga akhirnya.
Juga seperti yang saya katakan, bukanlah saya tertarik kepada Demedim Mi atas sebab melodinya (melodi Turki klasik, dan nasyid ini sebenarnya disampaikan dalam bahasa Turki), tetapi pada bait kata-katanya. Simple but yet, padat dan menyeluruh maksudnya. Meneliti liriknya, mengajak kita bertanyakan pada diri (O my heart I ask of you) tentang hakikat Redha, juga tentang hakikat Sabar, hakikat Tabah. Kerana, sering sungguh hati-diri kita membicarakan tentang hakikat-hakikat ini secara teori. Namun, apabila tiba pada praktikalnya, bilamana kita diuji dengan masalah, bebanan dan kesedihan (yang pedih), kita seringkali gagal.
Apa yang berlaku ialah, kita sangat cemerlang dalam teori, tapi corot dalam ujian praktikal. Sedih, down, kecewa, takut, lemah, marah... menangis (typical, bukan?). Tidak pula saya katakan bahawa itu adalah kesalahan maha besar. Saya juga sedar, sebagai manusia biasa yang punya perasaan (kurniaan Tuhan), kita memang tidak lepas daripada berada dalam keadaan sedemikian, kita bukan heartless.. bukan. Bahkan, bagi sesetengah dari kita, menangis dapat meringankan beban dalam dada. Cumanya, ingin saya mengingatkan diri sendiri dan juga teman-sahabat yang dihormati, agar belajar mengawal diri ketika dalam kesedihan, jangan sampai masuk dalam golongan yang Berlebih-lebihan, usah sampai kita dipandang Allah sebagai Si Kufur Ni'mat (na'uzubillah).
Sedih dan kecewa yang dirasa, lemah dan pedih yang dialami, biar kita balut dengan Sabar dan Redha. Teori kita zahirkan. Kita latih diri agar Sabar, kita ajar diri supaya Redha dengan ketetapan Tuhan untuk kita. Sungguh saya katakan, bilamana nur-Redha menyelubungi hati dan perasaan kita, cahaya terangnya akan menenggelamkan rasa sedih kecewa yang dirasa. Panasnya membawa rasa selesa yang melenyapkan rasa pedih yang mendera. Bila kita Redha, hati kita seolah-olah terpujuk untuk menerima segalam pemberian Tuhan, sebagai satu tarbiyyah, sebagai tanda Cinta Kasih Nya kepada kita (Whatever comes bitter or sweet, comes from Allah, a trial indeed).
Bicara saya, bukan bicara kosong, in sya Allah. Tentang hakikat Sabar dan Redha, banyak sekali Allah ajarkan kepada kita supaya dapat diimplementasikan dalam kehidupan. Juga bukan bicara kosong saya katakan, kerana pengalaman lepas banyak mengajar, tentang hakikat Redha, tentang hakikat Teori dan Praktikal ~ betapa sukarnya mengotakan apa yang dikata.
Uh-oh, tidak terlalu panjang untuk intro, saya harap ;). Jadi, itulah dia. Saya pilih Demedim Me (saya ubah sedikit dari Demedim Mi, tidak mahu dituduh penciplak hak orang, hehe) kerana saya ingin sentiasa mengingatkan diri, mendidik diri agar dapat mengaplikasikan ilmu Sabar dan Redha dalam apa jua keadaan, menerima segalanya sebagai method tarbiyyah Tuhan kepada diri, sebagai token menunjukkan bahawa saya masih punya tempat untuk mendapatkan perhatian Nya .. ingin mengajar diri supaya melaksanakan apa yang dibicarakan, bukan semata pemanis kata.. bukan! Saya tidak mahu dimurkai Tuhan, kerana :
".. amat besar kemurkaan Allah kepada siapa yang tidak mengotakan apa yang dikata.."
(As-Saff : 4)
Cukup dulu ya.
Kita sama-sama baiki diri, ayuh!
Allah Hafeez =)


